ArticlePeran Agroindustri dalam Sustainable Development Goals (SDGS) 2030

February 27, 2020by Sari Nurmayani

Inclusive sustainable agriculture for community development adalah sebuah konsep yang menjadi solusi nyata dalam pertanian berkelanjutan yang menyejahterakan segala aspek yang terlibat, tidak hanya manusia, juga hewan, tumbuhan, lingkungan (People, planet and prosperity).

 

Indonesia dikaruniakan sumber daya lahan produktif yang sangat luas, total luas daratan NKRI berkisar 1.922.570 km2 dengan lahan potensial pertanian seluas 95,85 juta Ha. Luasan tersebut tidak akan berarti banyak tanpa management agraria yang tepat, bukan sebuah isu belaka bahwa Indonesia yang sejak dahulu dikenal sebagai negara agraris mengimpor bahan pangan dari luar negeri, bukan tanpa sebab dan tanpa usaha dari pemerintah untuk memperbaiki tersebut. Hal itu adalah fakta, tantangan untuk diselesaikan oleh segenap bangsa terutama pemudanya, agar menciptakan solusi yang nyata.

Beragam upaya dari pemerintah telah dilakukan misalnya, program swasembada pangan pada tahun 2016 yang fokus terhadap padi yang tidak dapat di pungkiri adalah makanan pokok mayoritas masyarakat RI, dilanjutkan dengan jagung pada tahun 2017, lalu kacang kedelai dan tebu pada tahun 2019. Bantuan pada petani pun tidak luput digulirkan demi mencapai target tersebut, mulai dari penyediaan lahan, pupuk dan benih; bantuan pengolahan paska panen, bantuan distribusi hasil pertanian, penetapan dan pengendalian harga hingga bantuan pengelolaan irigasi.

Lalu apakah hal tersebut menyelesaikan masalah pertanian dan pangan negara kita? Pada beberapa sektor mungkin iya, namun sebagai seorang masyarakat umum saya tidak luput dari berita bahwa masih banyak petani kita yang jauh dari kata sejahtera. Problematika bertajuk “Petani Aceh tidak sejahtera, Pak Geucik Berprestasi malah dipenjara”, “Impor produk pertanian bakal makin melonjak, ada apa?”, “Harga komoditas pertanian anjlok, warga pilih jadi buruh”, “Harga cabai turun petani minta harga acuan ditentukan”, hingga “Hanya berharga Rp. 200 per kg, petani buang hasil panen tomat” masih terus bertebaran di media masa dan tentu mengiris hati para pembaca atau pendengarnya.

Sebagai seorang pembelajar yang sedang mencoba memahami masalah tersebut dari sudut pandang pribadi, masalah-masalah tersebut dapat dihimpun antara lain 1) Rendahnya harga komoditas pertanian, 2) Rantai pasok yang terlalu panjang dan mengurangi perolehan petani secara signifikan, 3) Petani secara umum tidak memiliki bargaining position, 4) Dampak industri yang tidak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat, 5) Rendahnya penghasilan petani, berdasarkan data yang diperoleh dari BPS rata-rata penghasilan petani berkisar antara Rp. 1 – 1.5 juta sedangkan pengeluaran rumah tangga per bulan rata-rata di Indonesia adalah Rp. 1.2 juta, artinya tipis sekali selisihnya dan bahkan nyaris kurang.

Hal tersebut ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di negara berkembang lain yang mengalami masalah serupa dan mendapatkan tuntutan untuk mengatasi kemiskinan, kesenjangan dan perubahan iklim sehingga dirumuskanlah SDGS yakni tujuan berkelanjutan yang disepakati 189 negara dan dicanangkan PBB tercapai pada tahun 2030. Tiga dimensi utama dalam SDGS ini adalah Lingkungan, Sosial dan Ekonomi.  SDGS sendiri terdiri dari 17 tujuan pembangunan utama yang diharapkan membuahkan solusi yang nyata. Lalu bagaimanakah peran Agroindustri dalam mewujudkan SDGS di Indonesia?

 

Agroindustri memiliki cakupan bidang yang cukup luas, salah satu fokusnya adalah pengolahan hasil pertanian secara berkelanjutan, melalui fokus tersebut tujuan SDGS nomor 2 yaitu mengurangi kelaparan dan meningkatkan ketahanan pangan sangat sekali bisa tercapai dengan kemajuan agroindustri. Usaha-usaha yang bisa dilakukan adalah pemenuhan kebutuhan pangan melalui konsumsi pangan lokal, hilirasi sumber daya lokal menjadi sumber makanan pokok pengganti nasi, misalnya dengan mengolahnya mejadi beras analog, penyediaan pangan alternatif seperti penggunaan tepung umbi-umbian hasil bumi indonesia sebagai bahan baku gandum untuk mie, pasta, cookies dan roti, serta penyediaan pangan secara mandiri sebagai aplikasi ilmu agroindustri di tingkat keluarga.

Pangan fungsional untuk kesehatan, Ilmu teknologi agroindustri juga mendalami pengenalan potensi bahan baku termasuk identifikasi nilai fungsional bahan hasil pertanian. Kemajuan agroindustri akan sangat membantu pemenuhan tujuan pembangunan berkelanjutan nomor 3 mengenai kesehatan dan kesejahteraan.  Pangan fungsional sendiri adalah makanan dan bahan pangan yang dapat memberikan manfaat tambahan di samping gizi dasar pangan. Agroindustri dapat berperan untuk mengolah bahan tersebut menjadi produk hasil industri yang mudah untuk dikonsumsi oleh masyakat umum.

Tujuan pembangunan no 1 yaitu mengurangi kemiskinan, azas peningkatan nilai tambah melalui proses agroindustri adalah salah satu solusi untuk masalah kemiskinan, Sektor agroindustri harus berkolaborasi dengan masyarakat terutama petani untuk menyediakan bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan agroindustri agar tingkat keterserapan komoditas tinggi dan rantai supply dapat berkelanjutan. Langkah selanjutnya adalah diversifikasi produk dan peningkatan nilai tambah (added value) sehingga menghasilkan margin yang lebih tinggi dan melalui model bisnis fair business practices yang berlandaskan fair trade, pihak industri dapat berbagi lebih banyak pada setiap stakeholder dan tentu akan meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan.

Contoh nyata proses tersebut adalah studi kasus dari sebuah desa yang memiliki sumber daya pertanian utama buah alpukat, ketika musim panen buah alpukat tersebut hanya dihargai Rp. 5000 – Rp. 25000 per Kg dengan kualifikasi yang ketat untuk masuk ke tengkulak yang nantinya akan berujung pada super market, pasar modern dan pasar tradisional sesuai dengan grade. Umur simpan buah hanya sekitar 14 hari, mau tidak mau petani harus mengeluarkan hasil panennya dengan harga yang ditawarkan pengumpul, dari pada hasil panennya tidak terjual. Namun dengan teknologi agroindustri, buah alpukat tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam produk turunan salah satunya adalah minyak alpukat, minyak biji alpukat dan tepung daging alpukat yang memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi yaitu berkisar 300.000 – 700.000 untuk minyak alpukat, Rp. 200 – 500 ribu untuk minyak biji alpukat. Selain meningkatkan nilai tambah, kedua teknologi agroindustri tersebut juga dapat memperlama masa simpan, meningkatkan efisiensi distribusi dan memperluas segmen pasar buah alpukat yang awalnya hanya fokus untuk kebutuhan konsumsi makanan dapat melebar untuk pemenuhan bahan baku di industri kosmetik dan farmasi juga.

Peran agroindustri dalam mewujudkan tujuan no 12 juga cukup besar yakni produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, melalui sistem sustainable supply chain management yang menerapkan 9 prinsip utama CAP (Common Agriculture Policy) antara lain 1) ensure fair income 2) increase competitiveness 3) rebalance power in food chain 4) climate change action 5) environmental care 6) preserve landscapes & biodiversity 7) support generational renewal 8) vibrant rural areas 8) protect food & health quality.

Agroindustri dalam perannya mewujudkan tujuan no 9 “Industry, Innovation and infrastructure” juga sangat besar yakni salah satunya dengan menerapkan sistem produksi yang bersifat zero waste, karena mayoritas limbah agroindustri yang berupa bahan agrokompleks masih sangat bisa dimanfaatkan dengan berbagai macam solusi. Prinsip produksi berlandaskan ESPB (Efisiensi Sumber daya dan Produksi Bersih) juga penting diterapkan dalam setiap lini sebuah agroindustri.

Pada akhirnya dampak jangka panjang yang mungkin bisa terwujud sebagai implikasi penerapan prinsip-prinsip sebelumnya adalah tujuan nomor 7, 11, 13, 14 dan 15 yang secara berturut-turut adalah energi bersih yang terjangkau, kota dan komunitas masyarakat yang berkelanjutan, aksi tanggapan perubahan iklim, keseimbangan ekosistem perairan dan keseimbangan ekosistem darat.

Sustainable agriculture yang mengintegrasikan Agronomi, Agroindustri, dan Agrobisnis yang berprinsip fair business practices adalah solusi nyata jangka panjang bagi kelangsungan peradaban manusia. Kunci hal tersebut adalah sinergi dan kolaborasi sektor hulu dan hilir secara berkelanjutan.

Contact Us

+62 859-3344-0741
contact@agavi.id
Jl. Jendral Ahmad Yani No. 669 Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung. 40125.

Business Inquiries

+62 859-3344-0741

2020 © PT Agritama Sinergi Inovasi