ArticlePerspektif Agroindustri Dalam Hilirisasi Komoditas Pertanian

May 10, 2020by Sari Nurmayani

Berdiskusi mengenai pertanian di Indonesia tentu tidak akan luput dari masalah yang berulang diberitakan dan dialami petani. Setiap tahun, kita selalu berjumpa dengan berita dengan headline  “Harga komoditas pertanian A anjlok”, “Hampir 80% komoditas pertanian B berasal dari sumber impor”, “petani buang hasil panennya karena harga anjlok”, “Harga komoditas pertanian anjlok, warga pilih jadi buruh” dan masih banyak lagi headline  berita yang kerap dijumpai setiap tahun.

Kegiatan petani saat panen padi

Apakah hal tersebut merupakan sebuah kewajaran? Padahal sejak dahulu kita diberitahu oleh orang tua dan guru-guru kita bahwa Indonesia kita adalah negara agraris, nagara dengan sumber daya alam yang kaya, namun demikian masih sangat banyak warganya yang belum sejahtera. Terutama dari kalangan petani, yang mungkin kini telah banyak yang beralih profesi.

Jika diringkaskan secara sederhana, terdapat 4 masalah pokok yang terjadi, yaitu:

  1. Rendahnya Harga Komoditas Pertanian, petani tidak mendapatkan harga yang sesuai, harga ditentukan oleh perantara dan tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan
  1. Rantai Pasok untuk komoditas pertanian terlalu panjang, produk pertanian melalui rantai pasok yang sangat panjang dan mengurangi harga yang diperoleh petani hingga lebih dari 200%.
  1. Dampak Industri, harga komoditas pertanian sebagian besar dikontrol oleh industri yang menerima,  hal tersebut mungkin akan merugikan bagi petani yang tidak memiliki posisi tawar yang baik. Harga ditekan serendah-rendahnya untuk meminimalkan biaya produksi. Pada akhirnya hanya sedikit keuntungan yang diperoleh atau malah merugi. Dampak lain dari perluasan industri adalah dampak lingkungan akibat penanganan limbah yang kurang baik, hal ini secara jangka panjang dapat merusak lingkungan dan berimbas pada daya dukung lingkungan untuk kegiatan pertanian.
  2. Rendahnya Penghasilan Petani dan kesejahteraan petani yang tidak merata, Berdasarkan hasil sensus pada tahun 2019, pendapatan bulanan rata-rata petani Indonesia adalah Rp. 1 – 1,5 juta sedangkan  Pengeluaran rata-rata perorangan di Indonesia adalah Rp. 1.2 juta. Lalu bagaimana mereka akan mengatur keuangannya agar cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, hingga pendidikan anak-anaknya?. Jika dibiarkan banyak yang malah terlibat dalam rantai pasok panjang tadi dan memilih menggunakan pinjaman untuk dilunasi saat musim panen nanti.

Berbagai solusi telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk sebagai respons dari kepelikan masalah tadi. Salah satunya adalah hilirisasi komoditas pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas Pertanian.

Jika ditarik kesimpulan sederhana, sektor pertanian ini adalah sektor ekonomi yang menjadi penopang meskipun di era krisis seperti masalah pandemi Covid-19 yang sedang kita dan seluruh dunia hadapi saat ini. Tidak hanya pasar ekspor, pasar lokal pun meningkat. Semua orang membutuhkannya, selama kehidupan manusia masih berlangsung, kita perlu pangan, kita perlu hasil pertanian.

Tapi bagaimana jika komoditas pertanian ini diekspor dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi?

Tentu harganya akan lebih tinggi, peran yang diambil masyarakat kita juga akan lebih banyak tidak hanya menyediakan komoditas mentah dari sektor hulu, namun juga melakukan hilirisasi. Dampak langsungnya adalah, lebih banyak tenaga kerja yang diserap.

Konsekuensi lainnya ada?

Ada, kualitaslah yang menjadi titik kritis agar barang jadi kita diterima dipasar internasional.

Lalu apa sebenarnya hilirisasi itu dan apa kaitannya dengan Agroindustri?

Proses pengecekan kualitas buah kemasan

Agroindustri berasal dari kata agricultural dan industry yang berarti suatu industri yang menghasilkan suatu produk dengan menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya.

Sementara hilirisasi adalah Perkembangan industri yang menghasilkan bahan baku (industri hulu) menjadi industri yang mengolah bahan menjadi barang jadi (industri hilir).

Kita dapat tarik kesimpulan bahwa hilirisasi komoditas pertanian berkaitan erat dengan agroindustri.

Ibarat kata hilirisasi adalah tujuan dan agroindustri adalah tools untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Lalu apa saja yang menjadi kegiatan agroindustri untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian antara lain:

  1. Pengubahan dan pengawetan, bisa berupa pengolahan minimal seperti buah potong yang kemudian diawetkan melalui proses pengalengan untuk memperpanjang masa simpan dan memudahkan distribusi.
  2. Perlakuan fisik dan kimiawi komoditas pertanian sehingga menghasilkan produk pangan yang mudah dikonsumsi. Contohnya perlakukan fisik pada kelapa menjadi santan.
  3. Penyimpanan, adalah hal yang sangat penting dalam kegiatan agroindustri baik saat penerimaan bahan baku maupun saat pengeluaran barang jadi. Prinsip yang biasanya digunakan adalah FIFO (First In First Out) untuk menjaga kualitas barang dan mempermudah sistem manajemen gudang.
  4. Pengemasan adalah hal yang sangat urgent untuk komoditas pertanian dan produk hasil olahan pertanian. Kemasan tidak hanya berfungsi untuk menjaga hygiene, namun juga berfungsi untuk mempermudah distribusi, menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan. Contoh prinsip pengemasan yang sering digunakan yaitu active packaging dengan beragam jenis dan manfaatnya.
  5. Kegiatan distribusi, tentu sangat penting untuk kegiatan agroindustri, terutama untuk menghubungkan seluruh supply chain.

Lalu apa tujuan dari agroindustri dan hilirisasi,  jika dirangkum terdapat 6 tujuan utama dari hilirisasi yaitu:

  1. Peningkatan nilai ekonomi contohnya pengolahan bunga menjadi 3 produk turunan yaitu essential oil, hydrosol dan bahan campuran minuman teh yang memiliki harga jauh lebih tinggi
  2. Peningkatan nilai tambah fungsional, contohnya mengolah kelor yang kaya nutrisi dan kandungan bioaktif untuk supplement makanan
  3. Meningkatkan keterserapan produk Pertanian oleh pasar
  4. Memperpanjang masa simpan, contohnya pengolahan jagung menjadi beras analog yang lebih awet.
  5. Memudahkan distribusi, seperti pada pengolahan 1 -3 kg rempah menjadi 10 ml essential oil atau oleoresin.
  6. Agroindustri berbasis community development untuk meningkatkan kesejahteraan dan mendukung “fair business practices”

Begitu menarik jika berbicara mengenai Pertanian, agroindustry dan hilirisasi. Inclusive sustainable agriculture for community development adalah sebuah konsep yang menjadi solusi nyata dalam pertanian berkelanjutan yang menyejahterakan segala aspek yang terlibat, tidak hanya manusia, juga hewan, tumbuhan, lingkungan (People, planet and prosperity). Dan Inclusiveness tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, kunci hal tersebut sinergi dan kolaborasi sektor hulu dan hilir secara berkelanjutan.

Contact Us

+62 859-3344-0741
contact@agavi.id
Jl. Jendral Ahmad Yani No. 669 Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung. 40125.

Business Inquiries

+62 859-3344-0741

2020 © PT Agritama Sinergi Inovasi