ArticleFood Design Thinking: How to Design Food Products and Tools that Make it Easier

May 17, 2020by admin

Kenapa sih kita perlu yang namanya pengembangan produk pangan? Bukannya di pasaran sudah cukup banyak ya jenis-jenis produk pangan yang ada? Akan tetapi teman-teman, sadarkan kalian? kehidupan sosial kita sangat lah dinamis, penuh dengan ketidakpastian dan perubahan. Hal ini lah yang menyebabkan pengembangan produk pangan menjadi proses yang berkelanjutan dan tidak akan pernah berhenti.

Pengembangan produk atau yang bisa disingkat dengan NPD (New Product Development) akan terus berlangsung dengan adanya tujuan-tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk memenuhi kebutuhan konsumer yang terus berganti-ganti
  2. Sebagai tools untuk berkompetisi dengan perusahaan sejenis lainnya
  3. Sebagai langkah untuk mengaplikasikan perkembangan science yang ada
  4. Untuk menanggapi isu social: contohnya seperti dibuatnya makanan dengan label “tanpa pewarna dan pemanis buatan” untuk menanggapi isu bahayanya komponen ini di kalangan masyarakat
  5. Untuk menyesuaikan dengan aturan baru dari pemerintah

Kelima alasan tersebut tidak jarang saling bersinggungan satu sama lain. Hal ini lah yang mengakibatkan NPD menjadi proses yang sangat kompleks. Selain itu, NPD juga melibatkan 4 sudut pandang yang berbeda, di mana setiap sudut pandang tersebut harus dipertimbangkan di setiap tahapnya.

Karena prosesnya sangat kompleks, tidak sedikit produk pangan baru yang gagal dan segera ditarik dari pasar tak lama setelah launching.

“2/3 produk pangan baru segera ditarik dari pasar bahkan kurang dari waktu 1 tahun”

Oleh karena itu, banyak dikembangkan tools pengembangan produk yang bermanfaat untuk membantu proses NPD. Jika digunakan dengan tepat, tools ini dapat meningkatkan angka kesuksesan produk. Berikut merupakan tahapan yang perlu dilalui dalam melakukan NPD:

Yuk kita bahas satu persatu beserta tools yang dapat digunakan dalam setiap tahapnya 😊

 

1. OPPORTUNITY IDENTIFICATION

Setelah menentukan tujuan kenapa NPD ini dilakukan, biasanya kita akan langsung loncat pada proses pengumpulan ide secara acak. Tapi alangkah lebih baiknya apabila kita terlebih dahulu mengenal apa kebutuhan dari konsumer kita (understanding consumer needs). Proses ini bisa dilakukan dengan melakukan studi konsumen dan pasar melalui: penyebaran questionnaire, melakukan interview, dan membaca published market report.

Dalam melakukan proses ini ada beberapa tools yang dapat digunakan untuk mempermudah proses. Tools berikut biasa di bagi menjadi 4 kuadran, dengan 2 klasifikasi utama, yaitu berdasarkan keperluan pengembangan produk (Marketing dan pengembangan teknologi) dan tingkat “ke-baru-an” produk (incremental/perubahan kecil/product-driven dan sangat baru/perubahan besar/needs-driven):

Gambar diambil dari: (van Kleef, van Trijp, & Luning, 2005)

 

Laddering

Salah satu tools yang paling sering digunakan adalah “Laddering” atau yang sering disebut sebagai means-end chain. Laddering adalah bentuk interview yang dilakukan satu per satu (umumnya tatap muka) untuk mengetahui bagaimana consumer menerjemahkan atribut produk menjadi berbagai konsekuensi dan nilai-nilai hidup.

Laddering biasa dilakukan dengan melemparkan 2 pertanyaan dasar, yaitu:

  1. “mengapa kamu memilih produk ini?”
  2. “kenapa hal tersebut penting untuk hidupmu?”

Jawaban dari 2 pertanyaan dasar inilah yang nantinya harus beakhir pada sebuah nilai hidup, seperti: “memiliki hidup yang sehat”, “menjadi orang yang peduli lingkungan”, “memiliki keluarga yang bahagia”, “sukses dalam karir” dll.

Berdasarkan jawaban-jawaban tersebut dapat disusun sebuah hierarchy maps seperti contoh berikut:

Atribut produk didapat berdasarkan jawaban dari pertanyaan pertama “mengapa kamu memilih produk ini?”. Informasi ini sangat penting untuk keperluan pengembangan produk (teknis). Dari list atribut inilah kita bisa tahu poin apa saja yang bisa dikembangkan dari produk kita. Sementara itu, Value/nilai hidup merupakan ujung dari pertanyaan-pertanyaan yang kita lontarkan. Informasi ini sangat penting untuk kebutuhan marketing.

Setelah kita mengetahui kebutuhan dari konsumen yang menjadi target pasar kita, barulah kita bisa melakukan brainstorming atau proses pengumpulan ide.

Terdapat 2 jenis teknik pendekatan pengembangan ide:

  1. Problem/solve approach: dimulai dari mendefinisikan masalah yang ada (kebutuhan yang tidak terpenuhi, isu social, perubahan regulasi, dll) dan dilanjutkan dengan mencari solusi dari masalah tersebut.
  2. Fortuitous scan approach: memodifikasi dan mengembangkan produk yang sudah ada. Atau menciptakan product line yang baru.

Selanjutnya, seluruh ide yang terkumpul harus dievaluasi dan dinilai untuk memilih satu ide produk terbaik yang akan dilanjutkan ke step berikutnya. Tahap evaluasi ini biasa dilakukan melalui diskusi dengan seluruh pihak yang berkepentingan mulai dari tingkat managerial hingga operator lab.

 

2. DEVELOPMENT

Setelah menentukan ide produk yang akan dilanjutkan, kita harus tahu bagaimana menerjemahkan permintaan konsumen yang sudah kita list pada langkah pertama menjadi spesifikasi produk. Proses ini biasa dikenal dengan proses development product atau perencanaan. Salah satu tools menarik yang bisa digunakan pada proses ini adalah: Quality function deployment (QFD).

Quality function deployment (Linnemann, Benner, Verkerk, & Van Boekel, 2006)

Berikut merupakan beberapa kelebihan yang bisa kita dapatkan dari menggunakan tools ini:

  • Mengumpulkan segala informasi yang ada baik itu dr marketers/kebutuhan konsumen maupun dari sisi teknologi.
  • Mengasah kerja sama tim yang baik (melibatkan seluruh pihak)
  • Menerapkan product design thinking yang berorientasi kepada kebutuhan konsumen
  • Menghasilkan beberapa poin pengembangan berdasarkan prioritas (long term/short term)
  • Hasil dari teknik ini, dapat dilakukan untuk pengembangan produk secara kontinu (tidak perlu dilakukan semua sekaligus dalam 1 waktu NPD)
  • Mempersingkat waktu untuk trial and error sehingga produk cepat dipasarkan

Produk dari tools ini merupakan House of Quality (HoQ) yang bisa dibuat dengan mengisi beberapa bagian berikut:

  1. WHAT = “suara konsumen”: berisi preferensi dan kebutuhan konsumen (bisa didapat dari market/consumer research, atau hasil tahap pertama, consumer complaints, uji coba user, regulasi pemerintah, maupun strategi perusahaan).
  2. HOW = “spesifikasi produk”: berisi spesifikasi produk yang menjawab suara konsumen.

Contoh = what: “siap saji” ➡️ how: “single serving”

  1. Roof: berisi korelasi (+/-) antara setiap spesifikasi produk (HOW). Bisa jadi saling melengkapi atau saling bertentangan
  2. Relationship matrix: berisi nilai seberapa besar keterkaitan antara WHAT dengan HOW
  3. Targets: berisi besaran dari spesifikasi produk (HOW) yang dapat diukur untuk kebutuhan teknis pengembangan produk

Berikut adalah contoh dari HoQ yang sudah lengkap terisi:

Berdasarkan “importance rating” kita bisa mengetahui spesifikasi produk apa yang perlu menjadi fokus utama dalam pengembangan produk. Karena tidak seluruh spesifikasi produk yang telah di data dapat diaplikasikan dalam 1 produk baru, hasil dapat didokumentasikan untuk keberlangsungan NPD yang berkelanjutan.

 

3. OPTIMIZATION

Nah, sampailah kita di tahapan yang paling penting yaitu “trial and error” dalam pembuatan prototype produk. Proses ini terbagi menjadi 3 tahapan penting yaitu:

  1. Lab test: pembuatan prototype dan pengujian produk
  2. Market trial and sensory test, melalui sampling dan survey
  3. Evaluasi: menentukan keberlanjutan prototype yang dikembangkan

Biasanya proses ini memerlukan waktu yang panjang dan tidak selalu berakhir dengan tahap launching (ada kalanya ide akhirnya tidak dilaksanakan). Namun, keseluruhan hasil proses optimization ini bisa dijadikan dokumentasi untuk proses NPD berikutnya sehingga tidak mengulangi kesalahan yang serupa.

Jika hasil prototype yang kita buat dapat dinyatakan berhasil/berpotensi besar untuk dikembangkan lebih jauh, maka scale-up production trial dapat dirancang dan dilaksanakan.

 

4. LAUNCHING

Setelah melalui seluruh tahapan panjang ini, apakah produk sudah siap di pasarkan?

Belum teman-teman, ternyata ada beberapa tahap yang masih perlu kita lakukan, yaitu:

  1. Marketing planning
  2. Cost and profit analysis

Kedua tahapan di atas sebenarnya dapat dilakukan bersamaan dengan proses optimisasi produk. Tetapi, pada langkah terakhir ini kita perlu mengevaluasi hasil perencanaan dan analisis tersebut dengan baik sebelum akhirnya memutuskan untuk memasarkan peroduk. Oleh karena itu, dibutuhkan tools penting yang dapat meringkas dan mengevaluasi kesiapan produk kita, yaitu:

“Business model canvas dan value proposition canvas”

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa pengembangan produk merupakan proses yang panjang dan kompleks. Dia melibatkan banyak pihak dan memakan banyak waktu. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama tim yang baik, pengetahuan, serta kreativitas yang luas.

Satu pesan: “Jangan pernah takut gagal, karena dari kegagalan itulah, kesuksesan yang besar akan lahir”

Semoga bermanfaat teman-teman, ditunggu produk-produk kreatif karya kalian 😊

 

 

Ditulis oleh: Afina Rahmani

 

Referensi:

Linnemann, A. R., Benner, M., Verkerk, R., & Van Boekel, M. A. J. S. (2006). Consumer-driven food product development. Trends in Food Science and Technology, 17(4), 184–190. https://doi.org/10.1016/j.tifs.2005.11.015

van Kleef, E., van Trijp, H. C. M., & Luning, P. (2005). Consumer research in the early stages of new product development: A critical review of methods and techniques. Food Quality and Preference, 16(3), 181–201. https://doi.org/10.1016/j.foodqual.2004.05.012

Contact Us

+62 859-3344-0741
contact@agavi.id
Jl. Jendral Ahmad Yani No. 669 Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung. 40125.

Business Inquiries

+62 859-3344-0741

2020 © PT Agritama Sinergi Inovasi