ArticleCircular Waste Management Concept pada Sistem Pangan

May 29, 2020by admin0

Dalam budaya Indonesia, kita sering mendengar kata ‘mubazir’ dan teori-teori seperti habiskan makanannya, nanti nangis nasi terakhirnya’. Nah mungkin teman-teman juga disini sudah sering mendengar istilah food loss dan food waste. Meskipun keduanya merupakan penurunan kualitas, dan penurunan manfaat pangan, terdapat perbedaan di antara keduanya, yaitu pada tahap ‘sampah’ ini dihasilkan pada rantai supply pangan.

Food loss dihasikan di tahap produksi, penyimpangan, dan pemrosesan pangan. Ketiga tahap ini berpotensi dilakukan oleh pemasok bahan pangan. Sementara itu, food waste dihasilkan di tahap distribusi, pemasaran, dan konsumsi oleh konsumen. Pada ketiga tahap ini, sikap, pemikiran, dan etika konsumen terhadap pangan menjadi faktor penting.

Food waste dan food loss merupakan isu global yang cukup menyita perhatian, termasuk di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan dampak yang dihasilkan sangat berisiko bagi lingkungan, dan tidak mendukung pembangunan berkelanjutan. Indonesia merupakan negara penghasil food waste dan food loss terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi dengan produksi food waste mencapai 300 kg/orang/tahun. Jumlah tersebut tentu merupakan jumlah yang sangat besar.

Gambar 1  Food Loss dan Food Waste di Negara Maju dan Berkembang (shangulyyev 2019)

Food loss dan food waste di negara maju banyak dihasilkan pada tahap produksi, penyimpanan, dan distribusi. Sementara itu, di negara berkembang seperti Indonesia, food loss dan food waste lebih banyak dihasilkan pada tahap konsumsi. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor standar kualitas produk oleh konsumen dan ekonomi.

Sebagai contoh, konsumen negara maju cenderung memiliki standar tinggi terhadap kualitas bahan pangan, sehingga produk dengan kualitas rendah, baik saat pemanenan, atau penyimpanan akan tertolak dan tidak digunakan. Oleh karena itu, banyak food loss dan food waste dihasilkan pada tahap tersebut. Sementara itu, di negara berkembang, faktor ekonomi lebih berperan dominan. Sebagai contoh, ketika harga produk turun, dan supplier memberikan promosi, konsumen cenderung membeli produk dalam jumlah besar, dan pada akhirnya tidak habis dikonsumsi. Oleh karena itu, food loss dan food waste lebih banyak dihasilkan pada fase tersebut.

Terdapat perbedaan tipe food loss dan food waste yang dihasilkan di negara maju dan berkembang.

Di negara berkembang, tipe food loss dan food waste yang dihasilkan lebih banyak dari kategori produk segar, seperti buah dan sayur-sayuran. Faktor-faktor yang berpengaruh di antaranya adalah seperti keterbatasan teknologi penyimpanan, dan transportasi. Sementara di negara maju, tipe food loss dan food waste yang dihasilkan lebih banyak berasal dari kategori processed food. Faktor-faktor yang berpengaruh diantaranya adalah etika, perilaku, dan penghargaan konsumen terhadap produk pangan.

Food loss dan food waste memberikan dampak yang signifikan terhadap ekonomi dan lingkungan. Di antaranya adalah menurunkan ketersediaan pangan, yang terjadi akibat alokasi yang tidak efisien. Selain itu, food loss dan food waste berdampak pada alokasi pendanaan atau biaya yang tidak efisien dalam sebuah perusahaan secara agregatif. Selain itu, food loss dan food waste juga berdampak pada permasalahan lingkungan, mengingat sumber daya alam yang dibutuhkan untuk produksi pangan sangat besar. Sebagai contoh, untuk memproduksi 1 kg apel, kita membutuhkan 1,28 kg air. Food loss dan food waste juga menghasilkan gas rumah kaca, yang dihasilkan dari proses pembusukan.

Lantas bagaimana solusi untuk mengurangi food loss dan food waste?

Salah satunya adalah dengan menerapkan Circular Economy dalam sistem pangan.

Gambar 2  Circular Economy dalam Sistem Pangan (shangulyyev 2019)

Apa yang dimaksud dengan circular economy? Circular economy merupakan sitem produksi dan komsumsi berkelanjutan, dimana berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir penggunaan sumber daya, energi, dan by product (dalam industri pangan merupakan food loss dan food waste). Circular economy dalam sistem pangan terdiri dari tiga tahap utama, yaitu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, penggunaan kembali produk pangan, dan penggunaan by product.

Circular Waste Management

Tidak jauh berbeda dengan circular economy, circular waste management merupakan sistem untuk menggunakan kembali sampah, dalam hal ini food loss dan food waste menjadi produk yang bernilai. Circular waste management dalam sistem pangan dilakukan dengan pengumpulan limbah dari berbagai sektor, pembersihan atau sortasi, dan pemprosesan limbah menjadi produk bernilai.

Circular waste management ditujukan untuk mendukung ekonomi hijau, SDGs, dan mengikuti trend pasar, dimana produk substitusi mulai menjadi trend.

Berikut adalah konsep dan prinsip circular waste management dalam sistem pangan. Pertama, adalah mengurangi sampah dan maksimalisasi sumber daya yang tersedia. Kedua adalah penggunaan sumber daya, emisi, limbah, dan energi seminimal mungkin. Ketiga adalah menutup siklus produksi dan konsumsi melalui perpanjangan umur produk.

Gambar 3  Contoh Circular Waste Management pada Industri Dairy dan Nondairy

Pada diagram di atas dapat kita lihat, proses produksi akan menghasilkan limbah organic yang tentunya masih memiliki senyawa organik seperti protein, lemak. Karbohidrat, dan mineral. Limbah seperti ini akan menimbulkan masalah lingkungan jika langsung dibuang ke lingkungan, atau akan membutuhkan biaya lebih untuk waste treatment.

Untuk mengatasi limbah ini, perusahaan dapat menggunakan Black Soldier Flies (BSF) sebagai pengurai limbah. BSF merupakan edible insectss (serangga yang dapat dikonsumsi) yang akan menguraikan limbah organik, dan memanfaatkan nutrisi di dalamnya untuk pertumbuhannya. Dalam siklus hidupnya, BSF akan menjadi larva atau magoot. Larva ini merupakan alternatif pangan sumber protein.

Larva ini dapat dibuat menjadi beberapa produk turunan, diantaranya adalah susu, cookie, mie dan meat analog. Hal ini dapat menjadi inovasi baru bagi perusahaan, dan mendatangkan profit dikarenakan produk-produk dari edible insects sudah popular, dikalangan konsumen dunia, hanya saja branding dan pembangunan awareness terkait edible insectss perlu digencarkan khususnya di Indonesia.

Gambar 4  Contoh Circular Waste Management pada Industri Buah-buahan dan Sayur-sayuran Segar

Pada diagram dapat dilihat bahwa proses produksi, sortasi, dan penyimpanan sayur-dan buah segar dapat menghasilkan limbah yang kemungkinan besar masih layak dikonsumsi, dan memiliki komponen nutrisi tinggi. Dalam hal ini, perusahaan dapat menggunakannya untuk menghasilkan beberapa produk turunan, seperti selai, fruit leather, dan buah kering. Selain itu, beberapa bahan tambahan pangan juga dapat dihasilkan melalui ekstrasi, fermentasi, atau isolasi komponen di dalamnya.

Proses pemanfaatan limbah diawali dengan pengondisian (misalkan sortasi, pencucian, pembersihan, penghancuran, atau fermentasi) sebelum menggunakan komponen nutrisi di dalamnya. Selain dimanfaatkan menjadi produk dan bahan tambahan pangan, sisa ekstraksi dari limbah tersebut dapat digunakan sebagai pupuk organik, yang kemudian akan digunakan kembali untuk proses produksi sayur-dan buah.

Ditulis oleh: Fatimah | Chief Innovation Officer at AGAVI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us

+62 859-3344-0741
contact@agavi.id
Jl. Jendral Ahmad Yani No. 669 Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung. 40125.

Business Inquiries

+62 859-3344-0741

2020 © PT Agritama Sinergi Inovasi